Minggu, 10 Maret 2013

KEBUDAYAAN SOLO

Tanamkan Pendidikan Karakter melalui Kebudayaan



Solo, Jateng - Upaya menanamkan pendidikan karakter bisa dilakukan dengan sarana kebudayaan. Selain efektif, hal ini juga sekaligus mengajak siswa mencintai budaya Indonesia. Pendapat itu disampaikan dosen Jurusan Pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Sunarto Sindhu SKar, saat ditemui Espos seusai mengisi acara Pentas Budaya di SD Muhammadiyah 1 Solo, akhir pekan lalu.

Sindhu menerangkan jika seorang anak mengenal budaya sejak dini, diharapkan muncul kesenangan terhadap budaya, lalu ada keinginan mempelajari bahkan melestarikannya. “Jika sudah ada perasaan memiliki budaya, anak akan mencintai dan berusaha melestarikannya,” jelasnya.

Ia mencontohkan media wayang bisa menjadi salah satu sarananya. Jika guru di sekolah tidak ada yang bisa bermain wayang, mereka bisa mengajak kerjasama orang yang bisa mendalang. Pada saat pertunjukkan wayang itulah, pendidikan karakter bisa dilakukan. Dalang, terangnya, bisa mencontohkan bagaimana kehidupan seseorang yang berperilaku baik dan berperilaku jahat.

“Pertemukan tokoh baik dan tokoh jahat. Lalu ceritakan bagaimana kehidupan tokoh jahat, bagaimana tokoh baik. Hal ini bisa dicerminkan melalui tingkah laku, sopan santun dan kegiatan sehari-hari. Misalnya anak nakal yang suka merokok kemudian diceritakan suatu saat menderita sakit paru-paru,” ungkapnya.

Pendapat sebagian orang bahwa wayang adalah budaya kuno, terangnya, bisa dibantah jika dalang bisa memodifikasi cerita dan tokohnya. Jika wayang akan ditujukan sebagai media pembelajaran bagi anak-anak, dalang seharusnya menyesuaikan jalan cerita dan tokohnya. Hal ini ia lakukan ketika dirinya mementaskan wayang golek di hadapan sekitar 120 siswa kelas IV SD Muhammadiyah 1 Solo, akhir pekan lalu.

Kepala SD Muhammadiyah 1 Solo, Drs Muh Abu Nasrun MPd mengungkapkan kegiatan itu sengaja digelar dengan tujuan untuk menanamkan rasa cinta anak terhadap seni dan budaya. Menurutnya seseorang yang mencintai seni, biasanya adalah pribadi yang berperasaan lembut. Sehingga sentuhan kepribadian terhadapnya lebih mudah. “Perasaannya lebih peka,” ujarnya.

Sindhu juga mengingatkan agar orangtua mewaspadai seorang anak yang sering menonton sinetron. Pasalnya pada kebanyakan sinetron, seorang tokoh yang berperan jahat, digambarkan selamanya jahat. Seolah hidup manusia itu tak pernah berubah. Bukan tidak mungkin ketika seorang anak sering menonton sinetron akan timbul persepsi bahwa seseorang yang jahat, akan selamanya jahat. Ewt





KEBUADAYAAN SULAWESI


Tari Mesalai



Mesalai adalah salah satu jenis tarian tradisional yang berasal dari Provinsi Sulawesi Utara. Kesenian yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Kepulauan Sangihe Talaud ini dahulu merupakan bagian dari suatu upacara ritual sebagai perwujudan rasa syukur kepada Genggona Langi Duatung Saluruang (Tuhan Yang Maha Tinggi Penguasa Alam Semesta) atas segala anugerah yang telah diberikan-Nya. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan masuknya agama-agama baru, tari mesalai saat ini juga digunakan sebagai pelengkap upacara adat dan syukuran, seperti: khitanan, perkawinan, mendirikan rumah baru, peresmian perahu baru dan lain sebagainya.
Peralatan dan Busana Peralatan musik (waditra) yang digunakan untuk mengiringi tari mesalai adalah tegonggong yang iramanya terdiri dari lima macam, yaitu: (1) tengkelu bawine (irama untuk wanita); (2) tengkelu sonda (irama untuk pria); (3) tengkelu sahola (irama lincah); (4) tengkelu balang (irama mendayung); dan (5) tengkelu duruhang (irama menyusur pantai). Irama musik tegonggong ini dipadukan dengan sasambo atau lagu pujaan yang berisi ajaran tentang baik dan buruk, hubungan antarmanusia, manusia dengan Sang Pencipta, dan manusia dengan alam lingkungannya.
Busana yang dipakai oleh para penari pria adalah busana adat yang disebut laku tepu. Busana ini terbuat dari tumbuhan sejenis pisang yang kadang disebut juga serat manila. Selain itu, para penari pria juga menggenakan tutup kepala yang terbuat dari lipatan kain yang disebut paporong dan sapu tangan (lenso). Sedangkan, busana yang dikenakan oleh penari wanita diantaranya adalah: (1) laku tepu; (2) papili (mahkota yang terbuat dari kulit penyu yang dihiasi sejenis bunga angrek); (3) topo-topo (rangkaian bunga yang dililitkan pada sanggul); (4) soho (kalung); (5) galang (gelang); (6) lenso (sapu tangan); dan (7) boto pasige (sanggul).
Pertunjukan Tari Mesalai Pertunjukan tari mesalai diawali dengan masuknya para penari wanita yang berjalan dengan lemah gemulai, lalu memberi hormat (mindura) pada para penonton. Dalam gerakan menghormat tersebut, penari diiringi tabuhan tegonggong dengan irama tengkelu bawine dan nyanyian sasambo yang syairnya berbunyi �Kawansang ana gune, kumandang kapetuilang� (keagungan penari wanita, kerdipan mata seperti disangga).
Setelah itu, para penari pria akan menyusul masuk pentas dan kemudian memberi hormat pada para penonton. Selanjutnya, mereka langsung menari dengan gerakan kaki yang dihentak-hentak ke lantai dan gerakan tangan yang diayunkan ke muka sesuai dengan tabuhan tegonggong yang berirama tengkelu senda (irama laki-laki). Sedangkan, syair sasambo yang dinyanyikan berbunyi �Su pedimpolangang, salaing ese mang ene�, yang artinya �dalam setiap pertemuan tarian tetap (harus) ada�.
Kemudian, para penari akan membentuk lingkaran sambil terus menghentakkan kaki dan mengayunkan tangan ke kiri dan ke kanan secara bergantian. Irama yang ditabuh dalam mengiringi gerakan ini adalah tengkelu sahola dan syair lagu yang dinyanyikan berbunyi �Sengkalitu sengkara angeng, sengka pemedi limbene� yang artinya, �serempak dan bersama-sama naik, serempak melenggangkan tangan.�
Selanjutnya, para penari pria akan berpasangan dengan penari wanita untuk menarikan tari pergaulan yang disebut medalika. Pada gerakan tari ini para penari memegang sapu tangan dengan kedua belah tangan dan berputar membentuk lingkaran. Kemudian para penari wanita akan berjongkok dan penari pria mengelilinginya sambil melakukan gerakan mengaleke.
Ketika irama tegonggong berganti menjadi tengkelu balang, para penari berganti posisi dan mulai memainkan gerakan mendayung yang merupakan simbol dari masyarakat Sangihe Talaud yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan. Dalam gerakan ini sasambo yang dinyanyikan berbunyi �Dasalipe mapia, salai megugunena�, yang artinya �berbalaslah lagu secara serasi, para penari semakin halus dan mantap.�
Gerakan selanjutnya adalah salaing durung (menyusuri pantai). Pada gerakan ini para penari akan menari sambil menghentakkan kaki diiringi irama tengkelu durunghang dan syair sasambo yang berbunyi �Gagaweangu sangihe, ndai tuo katamang� (kebudayaan Sangihe Talaud, semoga tumbuh dan berkembang). Setelah syair sasambo selesai dinyanyikan, para penari akan memberi hormat pada para penonton sebelum meninggalkan panggung.
Nilai Budaya Mesalai sebagai tarian khas orang Sangihe Talaud, jika dicermati, tidak hanya mengandung nilai estetika (keindahan), sebagaimana yang tercermin dalam gerakan-gerakan tubuh para penarinya. Akan tetapi, juga nilai kerukunan dan kesyukuran. Nilai kerukunan tercermin dalam fungsi tari tersebut yang diantaranya adalah sebagai ajang berkumpul antarwarga dalam suatu kampung atau desa untuk merayakan suatu upacara adat dan saling bersilaturahim sehingga menciptakan suatu kerukunan di dalam kampung atau desa tersebut. Sedangkan, nilai kesyukuran tercermin dalam tujuan diselenggarakannya tarian tersebut, yang merupakan salah satu unsur dalam penyelenggaraan suatu upacara adat sebagai perwujudan rasa syukur kepada Sang Pencipta. (gufron)

KEBUDAYAAN BANDUNG


Rabu, 24 Maret 2010

Kota Bandung

Bandung memiliki suatu kebudayaan tersendiri yang di sebut dengan kebudayaan Sunda. Nah sebelum membahas Kebudayaan Bandung.Kata “Budaya berasal dari bahasa sansekerta budhayah yang merupakan bentuk jamak dari kata Buddhi yang berarti “budi” dan “akal”.Kebudayaan itu diartikan sendiri sebagai hal – hal yang berkaitan dengan budi atau akal.
Menurut E.B.Taylor (1871) mengatakan bahwa kebudayan adalah ompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hokum, adapt istiadat, kemampuan dan kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.Sesungguhnya kebudayaan mencakup semua yang didapatkan dan dipeajari dari pola – pola perilaku normatif artinya mencakup segala cara atau pla piker, merasakan dan bertindak.
Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Nah kita sudah tahu kan pengertian dari kebudayaan itu sendiri. Sekarang mari kita kenalan dengan kebudayaan Sunda. Sunda berasal dari hasil kawin-mawin antar-etnis dan bangsa di masa lalu. Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Sunda adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa.Menurut garis besarnya, wilayah Budaya Sunda dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu Sunda Tengah atau Sunda Kota dan Sunda Pinggiran.Untuk Sukunya, ada suku Sunda, bahasa di Bandung, di dominasi oleh bahasa Sunda.
Namun, kalo sekarang lebih banyak sih pake bahasa indonesia, atau buat anak mudanya mempergunakan bahasa gaul. Intinya, meskipun perkembangan zaman semakin maju. Masih ada masyarakat yang mempertahankan keaslian dari budaya Sunda, lewat kampung Sunda, itu semua di lestarikan. Semoga kelak nantinya budaya di Bandung tidak hilang. Oleh karena itu mari kita sama – sama menjaga dan melestarikan kebudayaan kota Bandung.
Gedung Sate sering disebut sebagai pusat dari kota Bandung.Berada di Bandung, dekat dengan Gedung Merdeka, dan Museum Biologi.Gedung sate mulai dibangun pada bulan September 1960.Keseluruhan bangunan Gedung Sate dirancang oleh para arsitek Indonesia yaitu Soedarsono, Frederich Silaban dan Ir. Rooseno. Pada tanggal 17 Agustus 1951, Gedung sate diresmikan oleh Bupati Ira.Kusuma Dua. Dan mulai dibuka untuk umum sejak tanggal 12 Juli 1975.
Sedangkan wilayah taman hutan kota di sekitar Gedung sate dahulu dikenal dengan nama Lapangan Gasebo.Kemudian sempat berubah nama beberapa kali menjadi lapangan Merdeka kemudian berubah menjadi taman Gedung sate.Bandung sendiri sekarang menjadi salah satu wisata pilihan bagi para wisatawan baik lokal ataupun mancanegara. Tiket masuknya yang tergolong murah, menjadikan obyek wisata ini selalu di padati oleh wisatawan, biasanya pada sabtu-minggu. Lokasi ini di padati oleh pengunjung.
Rata-rata pengunjung yang datang berasal dari wilayah sekitar Bandung, banyak kegiatan yang bisa di sini. antara lain, menikmati panorama sekitar, bermain sepeda,naik kuda, layang-layang, ataupun berolahraga. Luas taman Gedung sate serta pemandangan yang cukup segar di lihat mata. mampu mengurangi kepenatan selama bekerja. Gak rugi deh datang ke Gedung sate.Buat sekedar foto-foto juga bagus. Tapi info buat kamu, kalo ke Gedung sate siang hari, bawa topi atau payung yah, panas banget udaranya tapi alangkah baiknya jika datang di pagi hari karena disana banyak sekali ada pedagang kaki lima dan murah – murah lagi.Buruan dech..keburu abis..! Met liburan ya….
Sekilas Mengenai Bandung
Kata Pepatah, Tak kenal maka tak sayang.Malu bertanya sesat di jalan dech. Nah buat kalian yang mau tau tentang serba-serbikota Bandung, disini kalian bisa menemukan banyak hal tentang Bandung,mulai dari Sejarah Bandung, Sosial, Ekonomi, Budaya Bandung. Gak lupa ada juga makanan khas dan objek-objek wisata yang bisa kalian ketahui tentang Bandung.
Kota Bandung merupakan Ibu kota negara Indonesia, Bandung memiiki status yang setingkat dengan provinsi. Terletak di Pulau Jawa. Kalo kalian ingin masuk ke Bandung, ada pintu masuk yang menghubungkan, yaitu bisa lewat Bandara Soekarno-Hatta (Tangerang) atau bisa juga melalui Pelabuhan Tanjung Priok.
Sejarah Bandung
Kota Bandung yang kita kenal sering disebut dengan nama kota Bendungan karena terletak di pelabuhan Tangkuban Perahu, dimana gua perahu disebut dengan “Perahu Bandung “di resmikan oleh Ira.Kusuma Dua.Kota Bandung sering sekali berganti nama dari Parisvanjava menjadi kota India Belanda dimana telah terjadi konferensi Asia Afrika (1959) dengan anti kolonialisme.Pada masa kerajaan Padjajaran (1488) dimana pada tahun 1799 VOC mengalami kebangkrutan sehingga sekarang kekuasaan kota Bandung berada di bawah seorang Bupati Ira.Kusuma Dua.
Nah sampe akhirnya sekarang menjadi Kota Bandung.Usia kota Bandung tidak muda lagi, Namun, perubahan-perubahan yang terjadi dalam kurun waktu hamper 500tahun. Sebagian berdampak positif sebagian negatif.Sebagai generasi penerus, ada baiknya kalau kita melestarikan Kota Bandung itu sendiri. Nah, segitu dulu mengenai kota Bandung.Jika ingin mengetahui lebih jelasnya lagi tentang sejarahnya langsung saja langsung ke kota Bandung.nggak nyesel dech…!

KEBUDAYAAN JOGJA

KEBUDAYAAN JOGJA

Gamelan, Orkestra a la Jawa Gamelan jelas bukan musik yang asing. Popularitasnya telah merambah berbagai benua dan telah memunculkan paduan musik baru jazz-gamelan, melahirkan institusi sebagai ruang belajar dan ekspresi musik gamelan, hingga menghasilkan pemusik gamelan ternama. Pagelaran musik gamelan kini bisa dinikmati di berbagai belahan dunia, namun Yogyakarta adalah tempat yang paling tepat untuk menikmati gamelan karena di kota inilah anda bisa menikmati versi aslinya.
Gamelan yang berkembang di Yogyakarta adalah Gamelan Jawa, sebuah bentuk gamelan yang berbeda dengan Gamelan Bali ataupun Gamelan Sunda. Gamelan Jawa memiliki nada yang lebih lembut dan slow, berbeda dengan Gamelan Bali yang rancak dan Gamelan Sunda yang sangat mendayu-dayu dan didominasi suara seruling. Perbedaan itu wajar, karena Jawa memiliki pandangan hidup tersendiri yang diungkapkan dalam irama musik gamelannya.
Pandangan hidup Jawa yang diungkapkan dalam musik gamelannya adalah keselarasan kehidupan jasmani dan rohani, keselarasan dalam berbicara dan bertindak sehingga tidak memunculkan ekspresi yang meledak-ledak serta mewujudkan toleransi antar sesama. Wujud nyata dalam musiknya adalah tarikan tali rebab yang sedang, paduan seimbang bunyi kenong, saron kendang dan gambang serta suara gong pada setiap penutup irama.
Tidak ada kejelasan tentang sejarah munculnya gamelan. Perkembangan musik gamelan diperkirakan sejak kemunculan kentongan, rebab, tepukan ke mulut, gesekan pada tali atau bambu tipis hingga dikenalnya alat musik dari logam. Perkembangan selanjutnya setelah dinamai gamelan, musik ini dipakai untuk mengiringi pagelaran wayang, dan tarian. Barulah pada beberapa waktu sesudahnya berdiri sebagai musik sendiri dan dilengkapi dengan suara para sinden.
Seperangkat gamelan terdiri dari beberapa alat musik, diantaranya satu set alat musik serupa drum yang disebut kendang, rebab dan celempung, gambang, gong dan seruling bambu. Komponen utama yang menyusun alat-alat musik gamelan adalah bambu, logam, dan kayu. Masing-masing alat memiliki fungsi tersendiri dalam pagelaran musik gamelan, misalnya gong berperan menutup sebuah irama musik yang panjang dan memberi keseimbangan setelah sebelumnya musik dihiasi oleh irama gending.
Gamelan Jawa adalah musik dengan nada pentatonis. Satu permainan gamelan komplit terdiri dari dua putaran, yaitu slendro dan pelog. Slendro memiliki 5 nada per oktaf, yaitu 1 2 3 5 6 [C- D E+ G A] dengan perbedaan interval kecil. Pelog memiliki 7 nada per oktaf, yaitu 1 2 3 4 5 6 7 [C+ D E- F# G# A B] dengan perbedaan interval yang besar. Komposisi musik gamelan diciptakan dengan beberapa aturan, yaitu terdiri dari beberapa putaran dan pathet, dibatasi oleh satu gongan serta melodinya diciptakan dalam unit yang terdiri dari 4 nada.
Anda bisa melihat gamelan sebagai sebuah pertunjukan musik tersendiri maupun sebagai pengiring tarian atau seni pertunjukan seperti wayang kulit dan ketoprak. Sebagai sebuah pertunjukan tersendiri, musik gamelan biasanya dipadukan dengan suara para penyanyi Jawa (penyanyi pria disebut wiraswara dan penyanyi wanita disebut waranggana). Pertunjukan musik gamelan yang digelar kini bisa merupakan gamelan klasik ataupun kontemporer. Salah satu bentuk gamelan kontemporer adalah jazz-gamelan yang merupakan paduan paduan musik bernada pentatonis dan diatonis.
Salah satu tempat di Yogyakarta dimana anda bisa melihat pertunjukan gamelan adalah Kraton Yogyakarta. Pada hari Kamis pukul 10.00 - 12.00 WIB digelar gamelan sebagai sebuah pertunjukan musik tersendiri. Hari Sabtu pada waktu yang sama digelar musik gamelan sebagai pengiring wayang kulit, sementara hari Minggu pada waktu yang sama digelar musik gamelan sebagai pengiring tari tradisional Jawa. Untuk melihat pertunjukannya, anda bisa menuju Bangsal Sri Maganti. Sementara untuk melihat perangkat gamelan tua, anda bisa menuju bangsal kraton lain yang terletak lebih ke belakang.

KEBUDAYAAN CINA

BUDAYA TIONGKOK

Sinarmas World Academy (SWA) Serpong Kenalkan

Sinarmas World Academy (SWA) Serpong, Kota Tangsel menggelar Fair Chinese Festival, Sabtu (22/1). Dalam pagelaran itu, dipertontonkan berbagai budaya Tiongkok Cina, seperti pertunjukkan barongsai, kesenian beladiri Kungfu Shaolin dan cara menulis huruf Mandarin.

Chief Executive Officer (CEO) SWA Serpong John McBryde dalam sambutannya mengatakan, kegiatan tersebut dilakukan untuk meningkatkan pembelajaran dan pengenalan budaya Tiongkok kepada peserta didik di sekolah itu. Hal ini dilakukan untuk menunjang proses belajar mengajar (PBM). Maklum saja, sekolah yang didirikan sejak 2008 lalu tersebut konsen di bidang budaya Cina dan menggali lebih jauh tentang bahasa Mandarin. "Ini juga kita lakukan dalam rangka menyambut perayaan Imlek tahun ini," ujranya.
Festival itu juga untuk meningkatkan mutu para pendidik di sekolah itu. Maklum saja, dalam rangkaian acara tersebut juga diselenggarakan pemberian pelatihan bagi para pendidik yang mengajar di tempat itu. "Pelatihan itu lebih difokuskan pada penguasaan literatur sejarah Mandarin," ungkapnya.
Pada bagian lain, Humas SWA Serpong Claduia menuturkan, pagelaran hari itu juga merupakan rangkaian dari pameran yang akan diselenggarakan 24 Januari hingga 26 Februari di dua tempat. Yakni di Jakarta dan di SWA Serpong. Di antaranya yang dipamerkan yakni alat musik tradisional, serta barang-barang tradisonal lainnya seperti pakaian khas Cina.
"Selama satu bulan tersebut juga akan diisi dengan berbagai workshop yang mengupas tentang kebudayaan Cina," imbuhnya. Workshop tersebut, kata Claudia dikhususkan bagi para pendidik di sekolah-sekolah yang mengajarkan tentang budaya Cina. Namun di SWA juga disajikan stand yang memberikan ilmu tentang menulis huruf Mandarin, yang pengajarnya guru di sekolah SWA. "Ada beberapa stand di sini yang menerima siswa untuk belajar melukis dan menulis huruf Cina," terangnya.
Selian itu, lanjut Claudia, dalam kesempatan itu, pihaknya ingin menancapkan kecintaan terhadap budaya Cina kepada para siswa. Sebab dengan kecintaan tersebut diharapkan dalam mempelajari semua jenis pelajaran yang disuguhkan dengan nuansa budaya Cina dapat disemangati anak-anak.
"Kita juga ingin meyakinkan kepada para orangtua bahwa budaya Cina itu luar biasa sehingga mereka memilki kebanggaan," ungkapnya. Terlebih, sambung Claudia, yang memamerkan kepiawaian dalam seni kebudayaan Cina tersebut anak-anak yang sekolah di tempat itu. Dengan melihat penampilan anaknya akan lebih membuat bangga orangtua.
"Semua orangtua juga akan bahagia bila melihat anaknya bisa mentas di panggung," ujarnya. Pantauan Tangerang Ekspres di lapangan, acara dibuka dengan pertunjukkan barongsai dan kungfu. Setelah itu, CEO SWA Serpong John McBryde memberikan sambutan dan menerbangkan spanduk bertuliskan "Fair Chinese Festival" dengan diikatkan pada puluhan balon berbagai warna, pertanda acara di buka.
Usai menerbangkan balon, pengunjung pun diajak untuk menyaksikan teatrikal berbagai kesenian. Seprti seni tarian dari anak usia TK, hingga pertunjukkan drama dari siswa setingkat SD. Tak ketinggalan, beberapa guru di SWA ikut menghibur suana hari itu dengan mempertontonkan kebolehannya dalam tarian khas Cina.
Sekitar pukul 12.00 WIB. Acara teatrikal usai. Ratusan pengunjung SWA saat itu diajak untuk makan siang dengan menu masakan Cina. Selain itu, juga masih ada rangkaian acara out dor dengan pertunjukkan lomba menyanyi mandarin bagi siswa setingkat SD di SWA. Sedangkan untuk yang hobi dengan goresan koas di kanvas, di tempat itu juga dipertunjukkan kepiawaian pelukis yang seklaigus membuka kesempatakn kepada pengunjung untuk diajari menulis huruf Mandarin. (esa)